Menekan Covid-19 Ala Taiwan (Rubrik Opini Harian Serambi Indonesia)
Oleh Dr. Kahlil Muchtar, S.T., M.Eng. Kepala Pusat Riset Telematika Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh, Alumni National Sun Yat-sen University, Kaohsiung, Taiwan.



Artikel ini telah tayang di serambinews.com dengan judul Menekan Covid-19 Ala Taiwan , https://aceh.tribunnews.com/2020/09/29/menekan-covid-19-ala-taiwan.


Ketika Covid-19 mulai merebak di Tiongkok, para analis memprediksi bahwa Taiwan akan menjadi negara kedua dengan kasus tertinggi. Hal ini sangat logis terjadi dikarenakan jarak Tiongkok dan Taiwan yang hanya berkisar 81 mil. Selain itu, jumlah penerbangan antar kedua negara ini sangatlah intensif (per harinya). Banyak rakyat Tiongkok memilih Taiwan sebagai destinasi wisata. Tercatat pada tahun 2019, ada sekitar 2,7 juta rakyat Tiongkok yang bepergian ke Taiwan. Penulis yang pernah tinggal di Taiwan pun meyakini hal yang sama akan penyebaran virus ini. Wisatawan asal Tiongkok dapat dengan mudah ditemui di area publik, tempat wisata bersejarah hingga pasar malam.

Namun demikian, seluruh prediksi penyebaran Covid-19 di Taiwan tidak terbukti, dan hingga hari ini Taiwan tercatat sebagai salah satu negara dengan kasus terendah, sekaligus memiliki kemampuan mengendalikan virus ini secara rapih dan terintegrasi. Setelah mempelajari beberapa literatur baik ilmiah dan non-ilmiah, penulis berpendapat, setidaknya aada 3 faktor utama kesuksesan Taiwan menjinakkan Covid-19; kepemimpinan (leadership), teknologi (technology), dan kebijakan yang fleksibel (flexible policy). Salah satu tokoh penting dari sisi kepemimpinan adalah Audrey Tang, menteri digital Taiwan yang berusia 39 tahun, dan tercatat sebagai salah satu menteri termuda di dunia. Meskipun terbilang muda, ia mampu menyusun sistem digital tanggap bencana secara cepat dan tepat guna.

Kontribusi Tang yang utama adalah karantina digital bagi penduduk yang baru saja bepergian ke Tiongkok (di awal masa pandemik). Karantina digital merupakan isolasi mandiri dengan pengawasan secara digital melalui sinyal telepon pribadi. Oleh karena itu, jika penduduk yang tengah menjalani karantina menyelinap keluar (yang dibuktikan dengan pelacakan sinyal telepon mereka), maka penduduk tersebut akan dikenakan denda. Namun sebaliknya, jika seluruh peraturan karantina ditaati maka pemerintah memberikan uang saku senilai 33 dolar per harinya kepada penduduk tersebut. Ternyata dengan memanfaatkan teknologi disertai kepatuhan, tingkat penyebaran mampu ditekan dengan optimal. Tidak hanya itu, Tang menggunakan posisinya sebagai menteri untuk memberdayakan komunitas masyarakat, khususnya pegiat teknologi. Bermula dari seorang pengembang piranti lunak (software) bernama Howard Wu, yang secara suka rela mengembangkan piranti lunak berbasis peta.

Aplikasi yang ada di HP ini diperuntukkan untuk memantau stok masker di setiap toko yang ada di Taiwan. Dengan adanya aplikasi ini, masyarakat dapat dengan mudah memantau ketersediaan masker di toko terdekat, lokasi toko dan seberapa jauh jarak toko tersebut dari rumahnya. Informasi pada aplikasi HP ini senantiasa diperbaharui setiap 30 detik, sehingga akurasi informasi ketersediaan masker pada tiap toko sangatlah tinggi. Yang menarik adalah bagaimana peran Tang sebagai perwakilan pemerintah dalam keberlangsungan aplikasi pemantau masker ini. Ia secara aktif mendukung komunitas dari segi pendanaan, dengan turun secara langsung untuk membayar tagihan aplikasi berbayar yang digunakan Howard Wu dalam pengembangan aplikasi berbasis peta (map) ini. Dari sini kita melihat begitu intens-nya hubungan antara pemerintah dan komunitas digital untuk menumpas virus Covid-19 ini secara bersama-sama.

Dari sisi kebijakan yang fleksibel, Tang dan timnya mengembangkan sebuah aplikasi poling bagi masyarakat. Aplikasi ini diperuntukkan bagi masyarakat untuk menilai apakah kebijakan yang sedang dibuat pemerintah "disukai (like)" atau "tidak disukai (dislike)". Mereka cukup menekan tombol "suka" atau "tidak suka", lalu pemerintah akan melakukan analisa secara menyeluruh apakah kebijakan tersebut perlu dilanjutkan atau tidak. Hal ini dengan benar-benar menimbang suara mayoritas masyarakat. Faktanya, hal ini sangat mempengaruhi pemerintah dalam merancang kebijakan/regulasi "tanggap darurat" yang benar-benar didukung oleh masyarakatnya. Kesigapan pemerintah dan komunitas masyarakat melalui teknologi telah mampu meredam persebaran Covid-19, namun ada satu tantangan besar yang dihadapi oleh hampir semua negara saat ini (termasuk Indonesia), yaitu misinformasi dan hoaks. Hal ini jika tidak ditangani dengan benar, maka akan berdampak pada kurangnya keseriusan dan kewaspadaan masyarakat akan ancaman Covid-19.

Belakangan di Indonesia muncul pembahasan terkait efektivitas masker scuba, beberapa obat tradisional yang mampu menangkal virus ini, dan seterusnya. Untuk kasus masker scuba, jika hal ini mampu disosialisasikan dengan benar maka dampak yang diciptakan mungkin tidak sebesar sekarang. Yang paling sederhana adalah bagaimana dampak langsung bagi penjual masker scuba jika akhirnya penggunaan masker ini dilarang secara masal dan seterusnya.

Dalam hal penanganan misinformasi dan edukasi, Taiwan memiliki cara unik. Menteri Tang memperkenalkan konsep melawan "rumor dengan humor", walau edukasi formal yang berkelanjutan tetap diperlukan. Humor terbukti ampuh meluruskan informasi-informasi yang beredar di masyarakat. Lagi-lagi Taiwan menggunakan teknologi untuk menciptakan tokoh kartun seekor anjing bernama Zhongchai. Penduduk Taiwan sangat mencintai anjing dan bahkan terkadang memelihara lebih dari satu ekor anjing di rumah mereka. Pemilihan tokoh kartun seekor anjing tentunya sangat pas dan akan memunculkan kesan tersendiri bagi masyarakat Taiwan. Zhongchai hadir melalui poster-poster digital yang membanjiri media sosial di Taiwan. Ia menekankan pentingnya mencuci tangan, karantina hingga menggunakan masker.

Tercatat ratusan ribu netizen langsung bereaksi positif akan hadirnya tokoh ini, yang secara implisit membuktikan keberhasilan edukasi dan koreksi misinformasi melalui humor (bukan menebar ketakutan). Ini mengingatkan saya pada tokoh "Gam Cantoi" yang rutin hadir di harian Serambi Indonesia pada interval tahun 90-an hingga 2000-an awal. Meski pojok "Gam Cantoi" saat itu terbilang sangat kecil ukurannya, namun ia mewakili kondisi/kejadian yang sedang dialami oleh masyarakat Aceh secara umum. Kisah "Gam Cantoi" itu bisa melekat di benak pembaca di seluruh penjuru Aceh, dan pastinya sangat dirindukan.

Walau teknologi saat ini berkembang pesat, jika ia tidak digunakan dengan cerdas maka implikasi kepada masyarakat akan minim atau bisa saja nihil. Taiwan mengajarkan kita bahwa kepemimpinan, teknologi dan kebijakan yang fleksibel mampu dijadikan kombinasi efektif untuk siap dan tanggap dalam meredam wabah pandemi Covid-19. Bagi Aceh mungkin diperlukan perencanaan yang matang untuk menerapkannya, sekaligus tidak tergesa-gesa serta memiliki target yang jelas. Mengutip sebuah ungkapan Taiwan, "buji.buji.yue jiyue buhao", jangan tergesa-gesa karena semakint tergesa-gesa maka hasilnya akan tidak baik. Semoga Aceh terus berproses menjadi kota berteknologi dan berorientasi pada kepentingan rakyat.

Bagikan Berita ini

Berita Lainnya