Semangat Kepemudaan di Era Teknologi (Rubrik Opini Harian Serambi Indonesia)

Oleh Dr. Kahlil Muchtar, S.T., M.Eng.Kepala Pusat Riset Telematika dan Dosen Prodi Teknik Komputer, Universitas Syiah Kuala



Artikel ini telah tayang di serambinews.com dengan judul Semangat Kepemudaan di Era Teknologi , https://aceh.tribunnews.com/2020/11/03/semangat-kepemudaandi-era-teknologi.


Ketika saya masih ditinggal dinegeri Taiwan beberapa tahun silam, diberbagai Convenience Store/ swalayan mini terdapat sebuah mesin seukuran mesin ATM. Mesin ini bisa dikatakan serbaguna karena memudahkan keperluan yang sifatnya rutin (regular). Dari asal transportasi, mesin ini bisa digunakan untuk memanggil taksi sesuai keinginan, dan dalam hitungan menit akan tiba didepan swalayan mini tempat kita memesannya.

Tidak hanya itu, pembayaran tiket kereta cepat, pesawat terbang dan kereta api bisa dilakukan dengan mudah, begitupun dari sisi telekomunikasi dan administratif, mesin ini juga menyediakan fitur membeli pulsa ponsel, cetak dokumen melalui USB, hingga mengirim surat elektronik (e – mail). Mesin dengan fitur layar sentuh ini menjadi mesin serbaguna dan sangat memudahkan masyarakat. Kini mesin itu telah bertransformasi menjadi ponsel pintar yang berada diseluruh saku celana masyarakat dunia.

Dengan saldo tabungan yang cukup, paket data internet yang tersedia, atau uang digital seperti Gopay, Linkaja atau Sakuku, semua peran mesin serbaguna tadi dapat digantikan. Begitulah ilustrasi pesatnya teknologi. Semakin hari teknologi semakin pintar, terjangkau dan memudahkan.

Kita baru saja memperingati hari sumpah pemuda, yang merupakan lambang perjuangan pemuda dimasa pra-kemerdekaan dengan buah pikiran yang segar dan cemerlang. Kalau dulu para pemuda mengikrarkan bahwa bertumpah darah yang satu, berbangsa yang satu, dan menjunjung bahasa persatuan. Kini bagaimana pemuda millennial menunjukkan nasionalismenya?

Menurut penulis, salah satunya dalah menunjukkan bahwa pemuda mampu bersahabat dengan teknologi secara positif untuk menghasilkan sesuatu yang bermanfaat bagi bangsa ini. Bukankah Eyang Habibie pernah berpesan “Pesawat N-250 Gatot Kaca adalah hadiah saya untuk ulang tahun Indonesia yang ke – 50 waktu itu. Anak muda Indonesia sekarang harus lebih hebat dari habibie, karena segala fasilitas untuk berinovasi saat ini sangat lengkap”(“Tribun News – Pesan Habibie saat memperingati Hari Kebangkitan Teknologi Ke-23”).

Ya, fasilitas untuk berinovasi dengan mudahnya didapat, diakses dan dimanfaatkan namun demikian, membangun pola pikir inovatif membutuhkan waktu yang panjang, karena masyarakat harus mampu mengubah pola pikir “Penikmat Hasil” menjadi penggagas inovasi, hari ini kalau kita bertanya dimana pusa elektronik terbesar didunia, jawabannya adalah Kota Shenzhen, di Tiongkok. Kalau kita bertanya dimana pusat tentang potensial dibidang computer dan perangkat lunak (Software) yang siap dipakai, maka jawabannya adalah India.

Dari Kota Shenzhen kita harus belajar banyak dalam hal persiapan infrastruktur teknologi jangka panjang. Kota Shenzhen yang dulunya hanya desa tertinggal, kini berubah menjadi kota megapolitan, sekaligus mencetak innovator kelas dunia, sebut saja Ren Zhengfei yang mendirikan perusahaan telekomunikasi, Huawei.

Jika Shenzhen identic dengan keunggulan di sisi piranti keras (seperti ponsel pintar, kamera, CCTV, dll). Maka India mampu “mencetak talenta ahli piranti lunak (software) yang tersebar diseluruh dunia. Sehingga tidak heran kalau posisi penting dibeberapa perusahaan startup di Indonesia seperti Tokopedia dan Gojek diisi oleh engineer asal India.

Tidak hanya itu, saatnya Nadella dan Sundar Pichai yang merupakan orang nomor satu di Microsoft dan Google menyelesaikan studi S1 – nya di Negara asal mereka, India salah satu modal talenta – talenta hebat. India adalah kemampuan berbahasa Inggris dan bidang eksakta diatas rata- rata.

Saya berpendapat ada 3 tantangan Indonesia dalam mencetak innovator teknologi masa depan layaknya Tiongkok dan India : (1) SDM yang adaptif baik ilmu dasar maupun teknologi terkini, (2) Intrastruktur dari dan untuk Indonesia, jangan malah mengandalkan Negara lain dalam membangun intrastruktur penting seperti pusat data (Data Center), pemrosesan awan (Cloud Computing) dan sebagainya, dan (3) Gairah menghasilkan “Bukan” menikmati produk.

Sebuah gairah yang harus dimiliki para generasi bangsa yang nantinya diharapkan menjadi gairah inovatif yang turun – temurun.

Teknologi diharapkan mampu memberikan akses pendidikan keseluruh wilayah baik kota maupun desa. Dengan ini, akan semakin cerdas dan mampu menjawab tantangan jaman.

Pada hakikatnya, akal harus mampu memikirkan makna yang terkandung dalam penciptaan langit dan bumi, sebagaimana firman Allah SWT di surah Al- Baqarah Ayat 164 : “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silah bergantinya malam dan siang. Bahtera yang berlayar dilaut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air. Maka dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah matinya dan Dia sebarkan dibumi itu segala hewan, dan pengisaran angina dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi : Sungguh (terdapat) tanda – tanda (Keesaan dan Kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan.”.

Dengan demikian, akal dan ilmu yang kuat, atau dalam bahasa Arab disebut Qawiyyul Ilmi ini nantinya akan berujung pada kedekatan pada sang pencipta Allah SWT. Dalam sejarah Islam, kita menemukan kecerdasan akal yang mampu digunakan pada waktu dan tempat yang sesuai (baik dalam hal mengelola Negara, Masyarakat, dst).

Sehingga, dijaman millennial ini, teknologi haruslah menjadi sarana menguatkan iman dan ketaqwaan kita. Inilah inti pemikiran Eyang Habibie yang tidak pernah bosan menyuarakannya, semangat IPTEK dan IMTAQ. Sebuah perpaduan antara kedukapan generasi bangsa terhadap ilmu pengetahuan dan teknologi dengan kekuatan iman dan taqwa.

Dulu Teuku Umar dan Cut Nyak (Dien) harus bergeriliya tanpa ada kepastian kapan peperangan akan usai demi mempertahankan Nanggroe dari penjajahan. Tidak hanya itu, Jendral Muda Sudirman pun pernah harus menggerakkan pasukan kembali ke hutan (Agresi Militer) untuk menunjukkan kepada Belanda bahwa pasukan bersenjata Indonesia tetap eksis dalam keadaan apapun.

Kini pemuda bangsa tidak dituntut untuk bergeriliya, namun memaknai semangat Nasionalisme pasca kemerdekaan pahlawan proklamator RI pernah berujar, “makna dengan tercepatnya penyerahan kedaulatan, perjuangan belum selesai.” (Bung Hatta).

Untuk para srikandi, Buya Hamka pun pernah berpesan : “kecantikan yang abadi terletak pada keelokan adab dan ketinggian ilmu seseorang. Bukan terletak pada wajah dan pakaiannya”.

Semoga semangat berinovasi untuk bangsa dan agama semakin kuat dan tak padam ditelan transformasi teknologi yang kiat cepat dan terkadang malah melenakan generasi harapan bangsa. <Kahlil@unsyiah.ac.id>

Bagikan Berita ini

Berita Lainnya